'KURIKULUM MERDEKA '


 Kurikulum Merdeka 





    Sangat klise jika kita mengatakan dunia pendidikan kekurangan inovasi. Sebaliknya, yang sulit justru konsistensi dalam menjalankan inovasi tersebut. Berbicara tentang konsistensi, tentu ini berkaitan dengan komitmen pengimplementasian dengan terus melakukan perbaikan seiring prosesnya dan terus berefleksi dalam menunjukkan hasil jangka panjang bagi murid.
Yusnadi, guru besar Universitas Negeri Medan pada acara Gelar Karya Inovasi Hari Guru Nasional ke-77 oleh Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Sumatra Utara—terkait pengimplementasian Kurikulum Merdeka, mengatakan seorang guru harus lentur menghadapi perubahan yang diusung oleh dinamika pendidikan.
    Guru sebagai coach juga sebagai pemimpin pembelajaran, harus mampu memberikan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan belajar murid yang tentu saja tidak sama satu sama lain. Refleksi menjadi salah satu babak yang penting dalam menciptakan kelas yang berpihak kepada murid. Berpihak kepada murid, artinya pembelajaran berlangsung tidak semata berpusat kepada murid, tetapi juga benar-benar menciptakan suasana menyenangkan bagi murid. Refleksi akan sangat tidak fair jika hanya ditujukan kepada murid. Benar, melakukan refleksi setelah pembelajaran—apa yang sudah dikuasi dan apa yang belum dikuasai murid adalah bagian dari penghidupan ruang kelas yang berpihak kepada murid, tetapi apakah hanya sebatas itu? Apakah itu cukup menjadi kaca mata untuk mengidentifikasi apa yang sudah baik atau apa yang terlewat selama kelas berlangsung?
    Refleksi akan sangat efektif jika benar-benar mampu menjembatani seluruh entitas yang terpaut dalam pembelajaran. Tidak semata kondisi murid, tetapi juga guru sebagai coach atau sebagai pemimpin pembelajaran.
Saya kutip kembali tulisan Maxwell:
Listening is important for leaders, but if they don’t ask the right questions, they’re missing a lot … because i know they are so important to my personal leadership as well as the effectiveness of my organization.
    Guru harus berani mempertanyakan satu pertanyaan ampuh setelah pembelajaran di ruang kelas berlangsung dan menjadi acuan perbaikan diri di kelas berikutnya. Pertanyaan itu adalah: “Apa yang perlu Bapak/Ibu perbaiki dari kelas kita hari ini?” Artinya, kita memakai kaca mata murid untuk mampu menghargai kejujuran, berpikir kritis, dan juga kemerdekaan. Tentu guru juga harus mempertanyakan apa yang sudah baik di kelas dan apa tanggapan muridnya terhadapnya, tetapi adalah klise ketika guru hanya mampu bertanya apa yang sudah baik dari kelasnya—berkenaan dengan performanya sebagai guru—tanpa mempertanyakan apa yang harus ia perbaiki di kelas berikutnya.
Rasa “marah” atau “kesal” dan sebagainya—terkait emosi-emosi negatif, pasti pernah dialami oleh setiap guru dalam menghadapi murid yang beragam. Apalagi pasca pandemi Covid-19 yang mengusung learning loss yang cukup akut. Ketika murid mengungkapkan pujian terhadap gurunya sekaligus hal yang ingin diperoleh dari gurunya, adalah indikasi bahwa pembelajaran yang bermakna telah berlangsung di ruang kelas. Guru merdeka sanggup melakukan refleksi seekstrim itu demi kelas yang jauh lebih bermakna. Tidak sekadar bertanya apa yang murid butuhkan, apakah di kelas murid memperoleh kebutuhan tersebut, tetapi juga sejauh mana guru mampu membersamai pembelajaran bermakna bagi murid, apakah murid bahagia di kelasnya, dan apa yang harus ia perbaiki di kelas hari ini demi kelas yang jauh lebih menyenangkan dan bermakna di ruang-ruang kelas berikutnya.
Benar ruang kelas tidak cukup mumpuni tanpa keterkaitannya dengan entitas lain dalam trikonsentris pendidikan, yaitu keluarga dan masyarakat. Ketiga elemen ini adalah kesatuan yang utuh. Namun, sekolah selalu menjadi tempat menarik untuk dikulik.
Ki Hajar Dewantara sebagai pesohor pendidikan Indonesia mengatakan pendidikan sebagai rangkaian proses untuk memanusiakan manusia didasarkan pada asas kemerdekaan dengan memakai istilah among. Yang memiliki arti murid harus memiliki jiwa merdeka dalam artian merdeka secara lahir dan batin. Yakni melarang adanya hukuman dan paksaan terhadap murid karena akan mematikan jiwa  dan kreativitasnya. [3]
Benar tidak mudah melakukan perubahan, sebab itu saya ingin menggiring Anda pada sebuah pertanyaan, “Di manakah pendidikan berhenti?”


    Pertanyaan serupa pernah dituliskan Goenawan Mohamad untuk menyoroti politik—tentu subjeknya digantikan dengan “pendidikan”, dan Plato dengan syarat axiomatanya menyebutkan syarat ketujuh untuk berkuasa adalah “pilihan” yang ditafsirkan oleh Ranciere bahwa siapa saja mungkin terpilih, persaingan dan perebutan terbuka, dan politik sejatinya tak pernah berhenti. Apakah pendidikan senasib dengan politik?

Pendidikan bagaimanapun menautkan dirinya erat dengan guru. Pendidikan akan berhenti ketika guru tidak mau belajar, tidak lentur menghadapi perubahan yang diusung dinamika pendidikan, dan tidak mau menjadi kolaborator. Padahal, mengacu pada axiomata Plato, seorang guru harus menerima bahwa sejak semula ia adalah orang pilihan dan berdaya. Guru bukanlah pemain politik meski ia juga berkelindan dalam politik itu sendiri. Pendidikan adalah pengamongan jiwa-jiwa. Pendidikan adalah penggilan menerangi negeri. Masyarakat dan orang tua harus membersamai pergerakannya demi pertumbuhan murid yang jauh melampaui ruang-ruang kelas.


1.Kesimpulan yang kita dapat dari teks diatas adalah 

     kurikulum adalah salah satu unsur-unsur dari pendidikan, yang dimana pendidikan adalah proses pembelajaran dan pengembangan diri yang membantu individu memahami dunia sekitarnya, memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan. Dalam konteks sosial, pendidikan adalah fondasi untuk menciptakan masyarakat yang lebih berpengetahuan, berbudaya, dan beradab.

    Pentingnya guru sangat dalam pendidikan

  •    Guru sangat penting dalam pendidikan sebagai pendidik kedua setelah orang tua sebagai pendidik, arti dari guru sudah jelas yaitu di gugu dan di tiru atau kata lain sebagai orang yang memberi pengetahuan tentang ilmu-ilmu pendidikan. Karena tugasnya itulah, ia dapat menambah kewibawaannya dan keberadaan guru sangat diperlukan masyarakat.
    seorang guru harus mengimplikasikan tugasnya dalam proses belajar-mengajar
        Artinya, bahwa seorang guru harus dapat menunjukkan kinerjanya yang tinggi dalam mengimplikasikan tugasnya dalam proses belajar-mengajar. Di samping itu guru juga harus mengorganisir dan menetapkan pola saluran komunikasi yang jelas dalam kelompok, dapat menjelaskan cara-cara yang harus dilakukan oleh siswa sehingga kondisi belajar tetap optimal.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH TAMAN WISATA IMAN DAIRI

Teks Persuasi Bertema Persahabatan

MENULIS: PENGERTIAN MENULIS,TUJUAN MENULIS,FUNGSI MENULIS